Profil Penggunaan Obat dalam Penatalaksanaan Hipertensi: Bukti dari Puskesmas Selajambe Tahun 2025

https://doi.org/10.56014/jphi.v13i3.546

Penulis

  • Rahmat Ripaldi Departemen Farmasi, Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya, Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia
  • Yanti Cahyanti Departemen Keperawatan, Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya, Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia
  • Imat Rochimat Departemen Farmasi, Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya, Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia
  • Rani Rubiyanti Departemen Farmasi, Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya, Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia

Kata Kunci

antihypertensive drugs amlodipine calcium channel blocker hypertension primary health care obat antihipertensi amlodipin penghambat kanal kalsium hipertensi pelayanan kesehatan primer

Abstrak

Latar Belakang: Hipertensi merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi yang tinggi di Indonesia dan masih menjadi faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Peningkatan jumlah kasus hipertensi di Puskesmas Selajambe menunjukkan pentingnya evaluasi penggunaan obat antihipertensi untuk memastikan terapi farmakologis yang rasional dan tepat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan obat antihipertensi berdasarkan karakteristik pasien, golongan obat, jenis obat, zat aktif, dosis, frekuensi pemberian, dan pola terapi di Puskesmas Selajambe, Kabupaten Kuningan, pada tahun 2025. Metode: Penelitian observasional deskriptif ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data retrospektif yang diperoleh dari rekam medis. Sebanyak 146 pasien hipertensi dipilih dari populasi 230 pasien menggunakan teknik purposive sampling. Data dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi serta persentase. Hasil: Sebagian besar pasien berusia di atas 60 tahun (56,16%) dan berjenis kelamin perempuan (72%). Monoterapi merupakan pola pengobatan yang paling dominan (75%). Calcium Channel Blockers (CCB), khususnya amlodipin, merupakan obat antihipertensi yang paling banyak diresepkan (75%), diikuti oleh Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitors (ACEI), yaitu kaptopril (20%), sedangkan terapi kombinasi mencakup 5% dari seluruh resep. Amlodipin paling banyak diresepkan dengan dosis 5 mg (45%) dan 10 mg (29%), sedangkan kaptopril sebagai golongan ACEI diresepkan dengan dosis 12,5 mg (26%). Sebagian besar obat antihipertensi diberikan dengan frekuensi satu kali sehari. Kesimpulan: Penggunaan obat antihipertensi di Puskesmas Selajambe didominasi oleh monoterapi golongan CCB dengan amlodipin, yang telah sesuai dengan rekomendasi terkini dalam tata laksana hipertensi, terutama pada pasien lanjut usia, sehingga menunjukkan bahwa terapi obat tunggal masih menjadi pendekatan utama dalam pengobatan hipertensi.

Unduhan

Data unduhan belum tersedia.

Diterbitkan

2026-07-15

Cara Mengutip

Rahmat Ripaldi, Cahyanti, Y. C., Imat Rochimat, & Rani Rubiyanti. (2026). Profil Penggunaan Obat dalam Penatalaksanaan Hipertensi: Bukti dari Puskesmas Selajambe Tahun 2025. Jurnal Persada Husada Indonesia, 13(3), 114–119. https://doi.org/10.56014/jphi.v13i3.546